Mad Thabi’i dan Bacaan Panjang: Panduan Orang Tua

Mad thabi’i adalah bacaan panjang yang paling dasar: dibaca dua harakat, atau satu alif, kira-kira dua kali lamanya bacaan pendek. Terjadi bila huruf berharakat fathah diikuti alif, huruf berkasrah diikuti ya mati, atau huruf berdhammah diikuti wawu mati, dan sesudahnya tidak ada hamzah atau huruf mati. Contohnya دِينِ (dini) dan يَدْخُلُونَ (yadkhuluna) di Surat An-Nasr.

Bagi anak, inilah bacaan panjang pertama yang ia temui, sejak Iqro jilid 2. Panduan ini menjelaskan cara mengenali mad thabi’i, bedanya dengan bacaan yang lebih panjang, dan kesalahan panjang-pendek yang paling sering terdengar saat anak membaca.

Mencari guru ngaji privat untuk anak? Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang cocok, lalu mengirim laporan perkembangan anak setiap bulan.

Guru ngaji online, dari luar negeri

Untuk keluarga Indonesia di Timur Tengah, Jepang, Korea, dan negara lain. Jadwal mengikuti zona waktu Anda.

Guru ngaji ke rumah, di kota Anda

Ustadz atau ustadzah datang ke rumah Anda, di kota-kota di seluruh Indonesia.

Tiga pasangan yang membuat bacaan panjang

Huruf mad, yang membentuk mad thabi’i, ada tiga: alif, wawu, dan ya. Ketiganya membuat bacaan panjang bila didahului harakat yang “cocok”:

  • Fathah lalu alif. Bunyi “a” menjadi “aa”. Contoh: ٱلنَّاسَ (an-naasa), QS. An-Nasr: 2.
  • Kasrah lalu ya mati. Bunyi “i” menjadi “ii”. Contoh: فِى دِينِ (fii diini), QS. An-Nasr: 2.
  • Dhammah lalu wawu mati. Bunyi “u” menjadi “uu”. Contoh: يَدْخُلُونَ (yadkhuluuna), QS. An-Nasr: 2, dan ٱلْمَغْضُوبِ (al-maghdhuubi), QS. Al-Fatihah: 7.

Disebut “thabi’i” (alami) karena panjangnya tidak bergantung pada sebab lain. Kitab tajwid Tuhfatul Athfal menjelaskannya sebagai mad yang tidak bergantung pada hamzah atau sukun sesudahnya. Kalau sesudah huruf mad ada hamzah atau huruf mati, bacaannya berubah menjadi mad lain yang ukurannya berbeda.

Ada juga alif kecil yang ditulis di atas huruf, seperti pada مَـٰلِكِ (maaliki) di QS. Al-Fatihah: 4. Bentuknya kecil, tetapi panjangnya sama: dua harakat. Huruf latin di artikel ini, termasuk “aa”, “ii”, dan “uu”, hanya jembatan untuk Anda. Tujuan akhirnya tetap membaca huruf Arab.

Satu ayat, tiga huruf mad

Ayat kedua Surat An-Nasr cocok untuk latihan, karena ketiga huruf mad ada di dalamnya:

وَرَأَيْتَ ٱلنَّاسَ يَدْخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفْوَاجًا

Wa ra’aitan naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa. Artinya, “dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (QS. An-Nasr: 2, terjemahan Kemenag)

  • ٱلنَّاسَ: fathah lalu alif.
  • يَدْخُلُونَ: dhammah lalu wawu mati.
  • فِى dan دِينِ: kasrah lalu ya mati.
  • أَفْوَاجًا: fathah lalu alif di tengah kata. Tanwin di akhirnya, bila kita berhenti, dibaca “jaa”. Buku Iqro jilid 6 halaman 24 menyebut ukurannya juga 2 harakat.

Semuanya dibaca sama panjang. Kalau anak membaca “yadkhulu-na” pendek atau “diiiini” terlalu panjang, di situlah perlu dibetulkan.

10 contoh mad thabi’i dari Juz ‘Amma

Semua contoh di bawah dibaca dua harakat. Kata-katanya diambil dari tengah ayat, karena di akhir ayat yang diwaqafkan ukurannya bisa berubah, seperti dijelaskan di bagian berikutnya.

  1. ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ (ash-shaalihaati), QS. Al-‘Ashr: 3. Fathah lalu alif kecil, dua kali dalam satu kata.
  2. إِذَا (idzaa), QS. Az-Zalzalah: 1. Fathah lalu alif di akhir kata, disusul ز, bukan hamzah.
  3. كَانَ (kaana), QS. An-Nasr: 3. Fathah lalu alif.
  4. ٱلْوَسْوَاسِ (al-waswaasi), QS. An-Nas: 4. Fathah lalu alif.
  5. وَٱلتِّينِ (wat-tiini), QS. At-Tin: 1. Kasrah lalu ya mati.
  6. ٱلَّذِى (alladzii), QS. An-Nas: 5. Kasrah lalu ya mati di akhir kata, disusul يُ.
  7. فِيهَا (fiihaa), QS. Al-Qadr: 4. Dua mad thabi’i sekaligus: kasrah lalu ya mati, kemudian fathah lalu alif.
  8. وَطُورِ (wa thuuri), QS. At-Tin: 2. Dhammah lalu wawu mati.
  9. صُدُورِ (shuduuri), QS. An-Nas: 5. Dhammah lalu wawu mati.
  10. يَكُونُ (yakuunu), QS. Al-Qari’ah: 4. Dhammah lalu wawu mati.

Bedanya dengan bacaan yang lebih panjang

Anak yang sudah membaca Al-Qur’an akan bertemu bacaan panjang yang ukurannya lebih dari dua harakat. Ciri yang paling mudah dilihat: di atas huruf madnya biasanya ada tanda khusus berbentuk lengkung atau bergelombang. Di Mushaf Standar Indonesia, menurut LPMQ Kemenag, mad wajib dan mad jaiz bahkan diberi tanda yang berbeda bentuknya karena ukuran panjangnya berbeda. Beberapa contoh dari surat yang sering dibaca:

  • Huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata (mad wajib muttasil), seperti جَآءَ (jaa-a), QS. An-Nasr: 1. Menurut Pedoman Tajwid Sistem Warna dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kemenag, dibaca 5 harakat.
  • Huruf mad di akhir kata, hamzah di awal kata berikutnya (mad jaiz munfasil), seperti إِنَّآ أَعْطَيْنَـٰكَ (innaa a’thainaaka), QS. Al-Kausar: 1, dan لَآ أَعْبُدُ (laa a’budu), QS. Al-Kafirun: 2. Pedoman yang sama menyebut bacaan ini boleh 2 atau 5 harakat.
  • Huruf mad bertemu huruf bertasydid (mad lazim), seperti ٱلضَّآلِّينَ (adh-dhaalliin), QS. Al-Fatihah: 7. Buku Iqro jilid 5 halaman 29 memakai contoh ini dan menulis: bacaan harus panjang 6 harakat, baru diikuti tasydid. Pedoman LPMQ juga menyebut 6 harakat, atau 3 alif.
  • Huruf mad sebelum huruf terakhir, lalu kita berhenti (mad ‘aridh lissukun), seperti نَسْتَعِينُ (nasta’iin) di akhir QS. Al-Fatihah: 5. Saat berhenti, bacaan boleh dipanjangkan lebih dari dua harakat. Tuhfatul Athfal memakai kata ini sebagai contohnya.

Anda tidak perlu menghafal semua nama ini untuk mendampingi anak. Cukup pegang satu prinsip: panjang biasa itu dua harakat, dan ada beberapa tempat yang memang lebih panjang. Ukuran tepatnya paling aman dipelajari dari guru.

Kesalahan panjang-pendek yang sering terdengar

  • Memendekkan yang panjang. “Maliki” dibaca pendek, padahal ada alif kecil sesudah mim. Atau “nasta’in” tanpa panjang.
  • Memanjangkan yang pendek. هُوَ di QS. Al-Ikhlas: 1 dibaca “huuwa”, padahal tidak ada huruf mad sesudah ه. Ini sering terjadi karena anak sambil berpikir huruf berikutnya.
  • Panjang yang tidak rata. Mad thabi’i di satu kata dua harakat, di kata lain jadi empat, karena anak menirukan irama lagu.

Buku Iqro menganggap kekeliruan panjang-pendek sebagai kesalahan besar, dan anak tidak boleh naik jilid sebelum panjang-pendeknya benar semua. Menariknya, saat bacaan panjang pertama kali muncul di jilid 2, petunjuk Iqro membolehkan panjangnya sedikit lebih dari 2 harakat. Yang dituntut lebih dulu adalah beda yang jelas antara pendek dan panjang. Ukurannya dirapikan sambil jalan.

Petunjuk yang sama juga memberi cara menegur yang sederhana. Bila anak memanjangkan bacaan yang seharusnya pendek, cukup tanya “mengapa dibaca panjang?”, dan sebaliknya. Bila anak memanjang-manjangkan karena sambil berpikir, minta ia membaca putus-putus. Irama atau lagu murottal baru dianjurkan setelah anak lancar membaca, bukan selama belajar Iqro.

Cara melatih di rumah

  1. Kenalkan “ketukan”. Ajak anak membaca bacaan panjang sambil mengetuk meja dua kali. Pendek satu ketukan, mad thabi’i dua ketukan.
  2. Pakai surat yang sudah dihafal. Al-Fatihah dan An-Nasr penuh dengan mad thabi’i, jadi anak bisa fokus ke panjang-pendek tanpa terganggu hurufnya.
  3. Betulkan satu kata saja. Saat anak keliru, ulangi kata yang keliru dengan pelan, lalu minta ia membacanya sendiri. Hindari mencontohkan satu ayat utuh dengan irama, karena anak cenderung meniru iramanya.

Kalau anak masih di tahap mengenal harakat, mulai dulu dari harakat fathah, kasrah, dan dhammah. Urutan materi Iqro secara keseluruhan ada di panduan Iqro jilid 1 sampai 6.

Kapan anak perlu guru?

Mad thabi’i bisa Anda latih sendiri di rumah, asal bacaan Anda sendiri sudah rapi. Bantuan guru mulai terasa perlu ketika anak masuk ke mad yang lebih panjang, ketika panjang-pendeknya terus bergeser meski sudah sering dibetulkan, atau ketika Anda sendiri ragu berapa panjang yang benar.

Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang menyimak anak membaca satu per satu, online untuk keluarga di luar negeri atau datang ke rumah di kota-kota di seluruh Indonesia. Setiap bulan Anda menerima laporan sampai jilid dan halaman berapa anak membaca, termasuk materi tajwid yang sedang dilatih. Pilihan paketnya bisa dilihat di daftar harga lengkap.

Sumber

  • Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag, Pedoman Tajwid Sistem Warna (2011) (PDF).
  • Zaenal Arifin Madzkur, “Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani”, LPMQ Kemenag, 2018 (tautan): tanda baca idgham, iqlab, dan mad di Mushaf Standar Indonesia.
  • Sulaiman al-Jamzuri, Tuhfatul Athfal, bab pembagian dan hukum mad, bait 35–47 (teks di Wikisource).
  • As’ad Humam, Buku Iqro’ Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an, edisi revisi 2000: petunjuk mengajar jilid 2 dan 6, jilid 5 halaman 29, dan jilid 6 halaman 24 (pindaian di Internet Archive).
  • Teks ayat dan kata per kata: API quran.com (rasm Usmani). Terjemahan: Kementerian Agama RI, melalui quran.com.