Adab Membaca Al-Qur’an untuk Anak: 7 Kebiasaan Sederhana

Adab membaca Al-Qur’an untuk anak bisa diringkas menjadi tujuh kebiasaan: bersuci, duduk dengan sopan, memulai dengan ta’awudz dan basmalah, membaca pelan (tartil), memperindah suara sewajarnya, menyimak saat orang lain membaca, dan berhenti ketika sudah mengantuk. Semuanya punya dasar dari Al-Qur’an, hadits, atau penjelasan ulama, dan bisa dibiasakan sejak anak mulai belajar Iqro.

Tujuannya bukan membuat anak tegang, melainkan menanamkan rasa hormat. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin memberi gambaran yang mudah diingat: orang yang membaca Al-Qur’an sendirian hendaknya duduk seperti ia duduk di hadapan gurunya.

Mencari guru ngaji privat untuk anak? Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang cocok, lalu mengirim laporan perkembangan anak setiap bulan.

Guru ngaji online, dari luar negeri

Untuk keluarga Indonesia di Timur Tengah, Jepang, Korea, dan negara lain. Jadwal mengikuti zona waktu Anda.

Guru ngaji ke rumah, di kota Anda

Ustadz atau ustadzah datang ke rumah Anda, di kota-kota di seluruh Indonesia.

1. Bersuci sebelum memegang mushaf

Adab pertama yang disebut al-Ghazali adalah membaca dalam keadaan berwudhu. Untuk anak, ada keringanan yang perlu Anda ketahui. NU Online menjelaskan bahwa menurut pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi’i, anak yang sudah tamyiz tetapi belum baligh boleh menyentuh dan membawa mushaf tanpa wudhu untuk keperluan belajar, karena sulit baginya menjaga wudhu terus-menerus. Rujukannya antara lain Hasyiyah Qalyubi wa ‘Umairah.

Keringanan ini tidak berlaku untuk anak yang belum tamyiz, yang sebaiknya belum diberi mushaf, dan tidak berlaku untuk anak yang sudah baligh, walaupun masih duduk di bangku SD. Guru yang mengajar tetap wajib suci.

Dalam praktik, biasakan anak berwudhu sebelum mengaji sebagai latihan. Tetapi bila suatu hari ia lupa, jangan sampai sesi belajarnya batal hanya karena itu.

2. Duduk dengan sopan di tempat yang bersih

Al-Ghazali menganjurkan pembaca Al-Qur’an duduk dengan tenang, menghadap kiblat, menundukkan kepala, tidak bersandar, dan tidak duduk dengan gaya sombong. Ia juga menulis bahwa membaca sambil berbaring tetap berpahala, hanya saja keutamaannya di bawah itu.

Untuk anak, terjemahannya sederhana: ada satu tempat mengaji yang bersih dan tenang, buku Iqro atau mushaf diletakkan di meja atau rehal, dan anak duduk tegak, bukan sambil tiduran atau memegang mainan.

3. Memulai dengan ta’awudz dan basmalah

Allah memerintahkan membaca ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an (QS. An-Nahl: 98). Setelah itu anak membaca basmalah, lalu mulai membaca. Teks Arab, latin, dan doa pembuka lain ada di artikel doa sebelum belajar dan sebelum mengaji.

4. Membaca dengan tartil, pelan asal benar

وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا

Wa rattilil qur’ana tartila. “Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil: 4, terjemahan Kemenag)

Al-Ghazali mencatat hal yang menarik bagi kita di Indonesia: tartil tetap dianjurkan bagi orang non-Arab yang belum memahami arti Al-Qur’an, karena membaca dengan pelan lebih dekat kepada sikap hormat daripada membaca dengan tergesa-gesa.

Tulisan latin di artikel ini hanya jembatan; yang dilatih tetap bacaan dari huruf Arabnya. Prinsip tartil juga sejalan dengan Iqro: pelan asal benar. Anak yang membaca cepat tetapi panjang-pendeknya tertukar justru perlu diajak memperlambat. Bila ingin melihat isi tiap jilid, baca panduan belajar Iqro 1 sampai 6.

5. Memperindah suara, sewajarnya

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Zayyinul qur’ana bi ashwatikum. “Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian.” (HR. Abu Dawud no. 1468, dari al-Bara’ bin ‘Azib, dinilai sahih oleh al-Albani)

Bagi anak, memperindah suara berarti membaca dengan jelas, cukup keras untuk didengar guru, dan tidak asal-asalan. Bukan berarti harus berlagu. Seperti dirangkum dalam panduan Iqro kami, irama atau murottal baru cocok untuk anak yang sudah lancar membaca Al-Qur’an. Selama masih belajar Iqro, ketepatan huruf dan panjang-pendek lebih penting daripada irama.

6. Diam dan menyimak saat Al-Qur’an dibaca

وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Wa idza quri’al qur’anu fastami’u lahu wa anshitu la’allakum turhamun. “Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204, terjemahan Kemenag)

Nabi sendiri suka mendengarkan Al-Qur’an dibacakan orang lain. Beliau pernah meminta Abdullah bin Mas’ud membacakan Al-Qur’an untuknya dan bersabda, “Aku suka mendengarnya dari orang lain” (HR. al-Bukhari no. 5049).

Di rumah, adab ini terlihat ketika kakak sedang disimak guru atau orang tua: adik ikut duduk dan mendengarkan, tidak bermain atau memotong. Menyimak juga cara belajar. Anak yang sering mendengar bacaan yang benar akan lebih mudah menirukannya.

7. Berhenti saat mengantuk, dan jangan dipaksa

Rasulullah bersabda bahwa bila seseorang bangun malam lalu bacaan Al-Qur’an menjadi kacau di lidahnya sampai ia tidak tahu apa yang ia ucapkan, hendaklah ia berbaring dulu (HR. Muslim no. 787). Anak yang sudah sangat mengantuk atau lelah juga lebih baik berhenti, lalu melanjutkan di waktu yang segar.

Sebaliknya, anak yang masih terbata-bata tidak perlu berkecil hati. Nabi bersabda bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membacanya dengan terbata-bata dan merasa berat mendapat dua pahala (HR. Muslim no. 798). Hadits ini bagus disampaikan kepada anak yang sedang berjuang.

Cara membiasakan tujuh adab ini

Jangan ajarkan ketujuhnya sekaligus. Pilih satu atau dua untuk pekan ini, misalnya wudhu dan duduk dengan sopan, lalu tambahkan yang lain setelah menjadi kebiasaan. Anak juga lebih mudah meniru daripada mendengar nasihat, jadi biarkan ia melihat Anda sendiri berwudhu, duduk tenang, dan membaca dengan pelan.

Untuk anak usia dini, buat kartu bergambar sederhana: wudhu, duduk, ta’awudz, dan seterusnya, lalu centang setiap selesai mengaji. Pujilah adab yang ia jalankan dengan spesifik, misalnya “Tadi kamu duduk tenang sampai selesai.”

Kapan anak perlu guru ngaji?

Adab bisa ditanamkan di rumah, tetapi tartil yang benar butuh telinga yang terlatih. Anak perlu penyimak yang tahu kapan bacaannya terlalu cepat, kapan panjang-pendeknya tertukar, dan bagaimana memperbaikinya tanpa membuat anak takut. Bila Anda belum yakin dengan bacaan sendiri, di sinilah guru ngaji membantu.

Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang mengajarkan Iqro, tahsin, hafalan Juz ‘Amma, serta doa harian dan adab, online untuk keluarga di luar negeri atau datang ke rumah di kota-kota di seluruh Indonesia. Setiap bulan, laporan perkembangan beserta catatan guru dikirim ke WhatsApp Anda. Pilihan paketnya ada di daftar harga lengkap.

Sumber