Doa sesudah belajar yang populer di Indonesia adalah Allahumma inni qadistauda’tuka ma ‘allamtanihi, fardud-hu ilayya ‘inda hajati ilaihi, wa la tansanihi ya rabbal ‘alamin: “Ya Allah, aku titipkan kepada-Mu apa yang Engkau ajarkan kepadaku, maka kembalikanlah kepadaku ketika aku membutuhkannya, dan jangan buat aku melupakannya.” Doa ini berasal dari kitab ulama, bukan dari hadits. Untuk menutup majelis ilmu, termasuk sesi mengaji, ada doa yang diajarkan Nabi sendiri, yaitu doa kafaratul majelis (HR. at-Tirmidzi no. 3433).
Berikut teks Arab, latin, arti, dan asal kedua doa itu, ditambah doa untuk guru dan contoh rutinitas penutup sesi ngaji anak. Untuk doa pembuka, lihat dulu artikel doa sebelum belajar dan sebelum mengaji. Tulisan latin di sini hanya membantu di awal; begitu anak mengenal huruf hijaiyah, ajak ia membaca dari tulisan Arabnya.
Mencari guru ngaji privat untuk anak? Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang cocok, lalu mengirim laporan perkembangan anak setiap bulan.
Guru ngaji online, dari luar negeri
Untuk keluarga Indonesia di Timur Tengah, Jepang, Korea, dan negara lain. Jadwal mengikuti zona waktu Anda.
Guru ngaji ke rumah, di kota Anda
Ustadz atau ustadzah datang ke rumah Anda, di kota-kota di seluruh Indonesia.
Doa sesudah belajar: Allahumma inni qadistauda’tuka
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ قَدِ اسْتَوْدَعْتُكَ مَا عَلَّمْتَنِيْهِ فَارْدُدْهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ إِلَيْهِ وَلَا تَنْسَنِيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَـمِيْنَ
Allahumma inni qadistauda’tuka ma ‘allamtanihi, fardud-hu ilayya ‘inda hajati ilaihi, wa la tansanihi ya rabbal ‘alamin. Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku titipkan kepada-Mu apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, maka kembalikanlah ia kepadaku ketika aku membutuhkannya, dan janganlah Engkau buat aku lupa kepadanya, wahai Tuhan semesta alam.”
Asal doa ini
Menurut NU Online, redaksi doa ini dinukil dari kitab Raudlah lidl Dlarif fi Khawash Ismillah Ta’ala al-Lathif karya Muhammad bin Muhammad al-Maimuni. NU Online menyebut doa ini dibaca agar apa yang sudah dipelajari tidak mudah lupa. Doa ini tidak berasal dari hadits; lafalnya tidak kami temukan di enam kitab hadits utama.
Jadi doa ini termasuk doa dari tradisi ulama yang maknanya baik dan populer sebagai doa penutup belajar. Saat mengajarkannya, Anda cukup menyebut asalnya dengan jujur, tanpa menyebutnya sebagai sabda Nabi.
Untuk anak kecil, maknanya bisa dijelaskan dengan gambaran sederhana: “Pelajaran hari ini kita titipkan ke Allah, supaya nanti waktu kita butuh, Allah kembalikan dan kita tidak lupa.”
Doa penutup majelis (kafaratul majelis)
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. Artinya: “Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu.”
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: siapa yang duduk di sebuah majelis yang banyak obrolan sia-sianya, lalu membaca doa ini sebelum berdiri, diampuni apa yang terjadi di majelis itu (HR. at-Tirmidzi no. 3433). At-Tirmidzi menilainya hasan gharib sahih, dan al-Albani menilainya sahih. Abu Barzah al-Aslami juga meriwayatkan bahwa di akhir hayatnya Nabi membaca doa ini setiap hendak bangkit dari majelis, dan beliau menyebutnya sebagai penebus kesalahan di majelis (HR. Abu Dawud no. 4859).
Apakah dibaca juga setelah membaca Al-Qur’an?
Ada riwayat an-Nasa’i dari Aisyah yang menyebut Nabi menutup majelis, bacaan Al-Qur’an, dan shalat dengan kalimat ini. Ustadz Abu Yahya Badrusalam, dalam tanya jawab di Muslim.or.id, menjelaskan bahwa kata “bacaan Al-Qur’an” dalam riwayat itu hanya disebut oleh satu perawi, sehingga menurutnya yang kuat zikir ini adalah doa penutup majelis, bukan doa khusus setelah membaca Al-Qur’an.
Untuk sesi ngaji anak, perbedaan ini tidak membuat bingung. Di akhir sesi, anak memang akan bangkit meninggalkan majelis ilmu, sehingga doa kafaratul majelis tetap tepat dibaca.
Doa memohon ilmu yang bermanfaat
Doa dari hadits yang juga cocok dibaca setelah belajar adalah Allahummanfa’ni bima ‘allamtani, wa ‘allimni ma yanfa’uni, wa zidni ‘ilma (HR. at-Tirmidzi no. 3599): “Ya Allah, berilah manfaat dari apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah kepadaku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku.” Teks Arab dan penjelasannya ada di artikel doa sebelum belajar.
Doa ini enak dipakai sebagai penghubung: anak meminta agar pelajaran yang baru selesai benar-benar bermanfaat, bukan sekadar dihafal.
Mendoakan guru setelah belajar
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا، وَارْحَمْهُمْ وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِيْ مَقْعَدِ الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Allahummaghfir li masyayikhina wa liman ‘allamana, warhamhum, wa akrimhum bi ridhwanikal ‘azhim, fi maq’adish shidqi ‘indaka, ya arhamar rahimin. Artinya: “Ya Allah, ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka dan muliakanlah mereka dengan rida-Mu yang agung, di tempat yang benar di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
NU Online mencatat doa ini ditulis Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam catatan kaki kitab Risalah al-Mustarsyidin karya Imam al-Harits al-Muhasibi. Jadi asalnya juga dari ulama, bukan hadits. Mendoakan guru adalah cara sederhana menanamkan rasa hormat: anak belajar bahwa ilmu datang lewat orang yang mengajarinya.
Contoh rutinitas penutup sesi ngaji
Penutup yang sama setiap kali membantu anak tahu bahwa sesi sudah selesai, dan doa-doanya hafal dengan sendirinya. Contohnya:
- Ulang satu hal yang dipelajari. Tanyakan, “Tadi belajar huruf apa?” atau minta anak membaca ulang satu baris yang tadi sulit.
- Baca doa sesudah belajar bersama. Untuk balita, cukup bagian awalnya dulu, lalu tambah sedikit demi sedikit.
- Tutup dengan kafaratul majelis. Doa ini pendek dan dari hadits sahih, jadi layak menjadi kebiasaan seumur hidup.
- Doakan guru. Bila belajar dengan guru, ajak anak mendoakan ustadz atau ustadzahnya, lalu mengucapkan salam dan terima kasih.
- Rapikan buku dan mushaf. Anak menyimpan Iqro atau mushafnya sendiri di tempat yang bersih, bukan di lantai atau bercampur mainan.
Bila semua doa ini terasa terlalu banyak untuk anak usia dini, pilih dua saja: doa sesudah belajar dan kafaratul majelis. Yang penting rutin, bukan banyak.
Kapan anak perlu guru?
Rutinitas doa bisa dibangun di rumah. Tetapi sesi yang ditutup dengan doa itu sendiri perlu isi: bacaan Iqro atau Al-Qur’an yang disimak dan dikoreksi dengan benar. Bila Anda belum yakin dengan bacaan sendiri, atau sulit menyediakan waktu rutin, guru ngaji privat bisa mengambil peran penyimak sekaligus membiasakan adab pembuka dan penutup majelis.
Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang mengajarkan Iqro, tahsin, hafalan Juz ‘Amma, serta doa harian dan adab, online untuk keluarga di luar negeri atau datang ke rumah di kota-kota di seluruh Indonesia. Anda bisa memilih ustadz atau ustadzah, dan bulan pertama menjadi masa coba. Lihat daftar harga lengkap untuk pilihan paket 2 atau 3 kali sepekan.
Sumber
- NU Online, “Doa Sesudah Belajar“, “Doa Penutup Majelis“, dan “Mendoakan Guru” (teks Arab beserta sumber dan keterangannya).
- NU Online Jabar, “Kumpulan Doa Menuntut Ilmu” (pembanding teks Arab).
- Muslim.or.id, Badrusalam, “Shahihkah Menutup Bacaan Al-Qur’an dengan Doa Kafaratul Majlis?” (2016).
- Hadits: at-Tirmidzi no. 3433, Abu Dawud no. 4859, at-Tirmidzi no. 3599 (Hadits.id). Teks Arab dan penilaian al-Albani dicocokkan dengan kumpulan data hadith-api.

