Hari Santri: Menumbuhkan Semangat Santri pada Anak di Rumah

Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Tahun ini, 22 Oktober jatuh pada hari Kamis. Bagi anak yang tidak mondok, Hari Santri bisa menjadi momen sederhana untuk menumbuhkan semangat santri di rumah: mengaji dengan rutin, hormat kepada guru, dan belajar agama dengan sungguh-sungguh.

Artikel ini merangkum dasar penetapan Hari Santri, lalu memberi ide kegiatan yang bisa Anda coba bersama anak, pada 22 Oktober maupun sesudahnya.

Mencari guru ngaji privat untuk anak? Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang cocok, lalu mengirim laporan perkembangan anak setiap bulan.

Guru ngaji online, dari luar negeri

Untuk keluarga Indonesia di Timur Tengah, Jepang, Korea, dan negara lain. Jadwal mengikuti zona waktu Anda.

Guru ngaji ke rumah, di kota Anda

Ustadz atau ustadzah datang ke rumah Anda, di kota-kota di seluruh Indonesia.

Mengapa 22 Oktober?

Keppres 22/2015 ditetapkan di Jakarta pada 15 Oktober 2015. Sepekan kemudian, pada 22 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo mendeklarasikan Hari Santri Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta. Bila dihitung sejak deklarasi itu, Hari Santri 2026 adalah peringatan ke-12. Dalam bagian pertimbangannya, Keppres ini menyebut ulama dan santri pondok pesantren punya peran besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tanggal 22 Oktober dipilih karena merujuk pada seruan resolusi jihad 22 Oktober 1945. Menurut Keppres tersebut, seruan itu ditetapkan oleh para santri dan ulama pondok pesantren dari berbagai penjuru Indonesia, dan mewajibkan setiap muslim membela tanah air dari serangan penjajah. Keppres yang sama menegaskan bahwa Hari Santri bukan hari libur, jadi anak tetap sekolah seperti biasa.

Tema resmi Hari Santri 2026 dari Kementerian Agama adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, yang diluncurkan bersama logonya pada 22 September 2026. Berbagai lembaga juga mengisi Hari Santri dengan kegiatan masing-masing. PBNU, misalnya, mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” untuk tahun 2026 dan menggelar apel serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026. Dalam pedomannya, peserta laki-laki memakai sarung gelap, atasan putih, dan peci hitam, sedangkan peserta perempuan memakai busana muslimah bernuansa putih.

Siapa yang disebut santri?

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren mendefinisikan santri sebagai peserta didik yang menempuh pendidikan dan mendalami ilmu agama Islam di pesantren. Undang-undang yang sama mencatat beragam sebutan untuk guru pesantren, seperti Kiai, Tuan Guru, Anre Gurutta, Inyiak, Syekh, Ajengan, Buya, dan Nyai.

Jadi, anak yang mengaji di rumah memang bukan santri menurut undang-undang. Tetapi semangatnya bisa ditiru di mana saja: belajar agama dari guru, dengan adab, dan dengan rutin. Semangat ini sejalan dengan sabda Nabi:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Khairukum man ta’allamal qur’ana wa ‘allamahu. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari no. 5027, dari Utsman bin Affan). Tulisan latin di sini hanya jembatan untuk anak yang belum lancar membaca huruf Arab.

Lima unsur pesantren, versi rumah

Pasal 5 UU Pesantren menyebut lima unsur yang paling sedikit harus ada di pesantren: kiai, santri yang bermukim, pondok atau asrama, masjid atau musala, dan kajian kitab. Rumah tentu bukan pesantren, tetapi kelima unsur itu bisa menjadi cermin untuk menata kebiasaan mengaji anak:

  • Ada guru yang membimbing. Di pesantren ada kiai. Di rumah, perannya bisa diambil orang tua yang bacaannya baik, atau ustadz dan ustadzah yang datang secara rutin.
  • Anak yang hadir setiap hari. Santri bermukim, sehingga belajarnya tidak putus. Versi rumahnya adalah jadwal mengaji yang tetap, walau hanya 15 menit.
  • Tempat belajar yang khusus. Siapkan satu sudut yang tenang untuk mengaji, lengkap dengan Iqro atau mushaf, jauh dari televisi dan mainan.
  • Dekat dengan masjid atau musala. Ajak anak shalat berjamaah sesekali, atau shalat berjamaah di rumah sebelum mengaji.
  • Ada yang dikaji. Untuk anak, “kajian”-nya sederhana: halaman Iqro, surat pendek, doa harian, dan kisah teladan.

Ide kegiatan Hari Santri di rumah

  1. Berpakaian ala santri. Ajak anak memakai sarung dan peci, atau kerudung dan baju putih, lalu foto bersama. Hal kecil seperti ini membuat hari itu terasa istimewa.
  2. Ngaji bersama setelah Maghrib. Setiap anggota keluarga membaca bergiliran sesuai kemampuan: anak kecil satu halaman Iqro, kakak satu halaman mushaf, orang tua menyimak.
  3. Setoran hafalan kecil. Minta anak menyetorkan satu surat pendek yang sudah ia hafal, lalu beri pujian yang spesifik. Bila belum tahu harus mulai dari surat apa, baca panduan surat pendek pertama untuk anak.
  4. Cerita singkat tentang Hari Santri. Sesuaikan dengan usia: “Dulu, para ulama dan santri ikut membela negeri kita. Karena itu ada Hari Santri.”
  5. Mendoakan guru. Ajak anak mendoakan guru-guru ngajinya, dulu dan sekarang. Teks doanya ada di artikel doa sesudah belajar dan penutup majelis.
  6. Susun jadwal “santri rumah” untuk sepekan. Tulis bersama anak: hari apa mengaji, berapa lama, dan apa targetnya. Tempel di dinding dekat tempat belajar.

Menjaga semangat setelah 22 Oktober

Hari Santri hanya sehari, tetapi kebiasaannya perlu berlanjut. Tiga hal yang membantu:

  • Kecil tapi rutin. Mengaji 15 menit setiap hari lebih mudah dijaga daripada satu jam yang hanya sesekali.
  • Pujian yang jujur. Sebut usaha anak secara spesifik, misalnya “Tadi panjang-pendeknya sudah rapi.” Hindari membandingkan dengan saudara atau teman.
  • Adab sebelum ilmu. Biasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar, duduk dengan sopan, dan menghormati guru. Doa pembukanya ada di artikel doa sebelum belajar.

Kapan anak perlu guru ngaji?

Orang tua adalah teladan pertama, dan banyak kebiasaan santri bisa dimulai di rumah. Tetapi unsur pertama pesantren adalah guru. Anak tetap butuh penyimak yang bacaannya benar, sabar mengoreksi makhraj dan panjang-pendek, dan bisa menuntun hafalan secara bertahap. Ini terutama penting bila Anda belum yakin dengan bacaan sendiri atau jadwal kerja tidak memungkinkan.

Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang datang ke rumah di kota-kota di seluruh Indonesia, dengan harga yang sama di semua kota, atau mengajar online untuk keluarga di luar negeri. Materinya mulai dari huruf hijaiyah dan Iqro sampai tahsin, hafalan Juz ‘Amma, doa harian, dan adab. Rincian paketnya ada di daftar harga lengkap.

Sumber