Anak malas mengaji jarang disebabkan oleh satu hal saja, dan hampir tidak pernah karena ia “memang bandel”. Biasanya ada sesuatu yang membuat mengaji terasa berat: bacaannya terlalu sulit, sesinya terlalu panjang, jamnya bentrok dengan rasa lelah, atau ia pernah merasa malu saat salah. Sebagian besar penyebab itu bisa diubah dari rumah, tanpa memarahi dan tanpa memaksa.
Langkah pertamanya adalah mencari tahu penyebabnya, karena cara mengatasinya berbeda-beda. Panduan ini merangkum penyebab yang mungkin, hal yang bisa langsung Anda coba pekan ini, dan tanda kapan anak perlu dibantu guru.
Mencari guru ngaji privat untuk anak? Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang cocok, lalu mengirim laporan perkembangan anak setiap bulan.
Guru ngaji online, dari luar negeri
Untuk keluarga Indonesia di Timur Tengah, Jepang, Korea, dan negara lain. Jadwal mengikuti zona waktu Anda.
Guru ngaji ke rumah, di kota Anda
Ustadz atau ustadzah datang ke rumah Anda, di kota-kota di seluruh Indonesia.
Malas, atau ada yang mengganjal?
Kata “malas” sering menutupi masalah yang sebenarnya. Coba amati selama satu atau dua pekan: kapan anak mulai menolak, apakah ia menolak semua kegiatan belajar atau hanya mengaji, dan di bagian mana ia biasanya berhenti atau mulai rewel.
Tanyakan juga langsung kepadanya, dengan kalimat yang tidak menyudutkan. Misalnya, “Bagian mana yang paling bikin capek waktu ngaji?” atau “Kalau boleh ganti satu hal dari ngaji, Kakak mau ganti apa?” Jawaban anak kecil mungkin sederhana, tetapi sering sudah menunjuk ke penyebabnya.
Penyebab yang mungkin, dan yang bisa dicoba
1. Bacaannya terlalu sulit
Anak yang berminggu-minggu tertahan di halaman yang sama mudah merasa gagal. Ia lalu menghindar, dan dari luar itu terlihat seperti malas. Tandanya: anak mau membaca halaman lama, tetapi menolak begitu tiba di halaman baru.
Coba mundur beberapa halaman ke bacaan yang sudah ia kuasai, biarkan ia membacanya dengan lancar, lalu masuk ke halaman baru sedikit demi sedikit. Buku Iqro sendiri berpegang pada prinsip “pelan asal benar”, jadi tidak perlu terburu-buru naik halaman. Isi tiap jilid dijelaskan di panduan Iqro 1 sampai 6.
2. Sesinya terlalu panjang
Latihan di rumah tidak perlu lama. Lima sampai sepuluh menit yang rutin biasanya lebih mudah diterima anak daripada setengah jam yang diwarnai tawar-menawar. Ide kegiatan singkat untuk anak usia TK ada di artikel kegiatan mengaji 10 menit sehari.
Ini sejalan dengan cara Nabi ﷺ mengajar. Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Nabi ﷺ memilih waktu-waktu tertentu untuk memberi nasihat kepada para sahabat, karena tidak ingin mereka bosan (HR. al-Bukhari no. 68). Imam al-Ghazali juga menulis bahwa melarang anak bermain dan terus memaksanya belajar bisa mematikan hatinya, menumpulkan kecerdasannya, dan membuat hidupnya terasa sempit, sampai ia mencari cara untuk lepas dari belajar sama sekali. Jadi, selesaikan sesi saat anak masih semangat, bukan saat ia sudah kelelahan.
3. Jamnya tidak pas
Anak yang lapar, mengantuk, atau baru pulang sekolah sampai sore sulit diajak fokus. Begitu pula bila jam mengaji jatuh tepat saat kakak atau temannya sedang bermain. Coba geser jamnya, beri camilan dulu, dan pakai jam yang sama setiap hari supaya mengaji menjadi kebiasaan, bukan kejutan.
4. Pernah merasa malu atau dimarahi
Bila setiap kesalahan dibalas dengan nada tinggi, apalagi di depan saudaranya, anak belajar bahwa mengaji berarti dimarahi. Dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, al-Ghazali menasihati agar anak tidak ditegur terus-menerus setiap saat, karena teguran yang terlalu sering membuat anak terbiasa dicela dan kata-kata orang tua tidak lagi membekas. Ibnu Khaldun juga menulis bahwa kekerasan dalam mengajar justru memadamkan semangat belajar anak.
Betulkan satu kesalahan dalam satu waktu, dengan suara yang tenang. Contohnya: “Hampir. Dengarkan Ummi sekali lagi, lalu Adik ulangi, ya.”
5. Kurang cocok dengan guru atau cara mengajarnya
Anak bisa bersemangat dengan satu guru dan enggan dengan guru lain. Itu wajar, dan bukan kesalahan siapa pun. Perhatikan apakah anak tampak takut, bosan, atau bingung selama sesi. Hal-hal yang perlu ditanyakan ke guru ada di artikel cara memilih guru ngaji privat.
6. Kemajuannya tidak terlihat
Anak sulit merasa maju bila tidak ada yang menunjukkannya. Buat catatan sederhana: tempel selembar kertas di dinding, lalu beri tanda setiap kali ia menyelesaikan satu halaman atau hafal satu surat. Melihat deretan tanda itu bertambah sering cukup untuk membuatnya mau mencoba lagi.
Permudah, jangan mempersulit
Satu pegangan yang bisa dipakai untuk semua penyebab di atas adalah pesan Nabi ﷺ berikut.
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
Yassiru wa la tu’assiru, wa basysyiru wa la tunaffiru. “Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, serta berilah berita gembira dan jangan membuat orang lari (dari agama).” (HR. al-Bukhari no. 69, muttafaq ‘alaih, dari Anas bin Malik)
Tulisan latin di atas hanya jembatan; tujuan akhirnya tetap membaca huruf Arabnya. Dalam mengaji, “mempermudah” bukan berarti membiarkan bacaan yang salah. Artinya, memilih porsi, waktu, dan cara yang membuat anak mau kembali besok.
Yang sebaiknya dihindari
- Menjadikan mengaji sebagai hukuman. Kalimat seperti “Karena tadi nakal, sekarang ngaji dua halaman!” membuat anak mengaitkan Al-Qur’an dengan hal yang tidak menyenangkan.
- Membandingkan. “Adikmu saja sudah Iqro 3” jarang membuat anak bersemangat. Lebih sering ia merasa kalah sebelum mulai.
- Menambah porsi saat anak sedang lancar. Kalau hari ini ia semangat, berhentilah sesuai rencana. Biarkan ia menutup sesi dengan perasaan berhasil.
- Mengoreksi semua kesalahan sekaligus. Pilih satu yang paling penting hari ini. Sisanya bisa menunggu sesi berikutnya.
Contoh kalimat yang bisa langsung dipakai
- Untuk memulai: “Lima menit lagi kita ngaji, ya. Mau baca di meja atau di karpet?” Pilihan kecil membuat anak merasa ikut menentukan.
- Saat anak menolak: “Kelihatannya Kakak capek. Kita baca satu baris saja, setelah itu selesai.” Satu baris yang selesai lebih baik daripada sesi yang batal.
- Saat anak salah: “Huruf ini memang mirip. Coba lihat titiknya, di atas atau di bawah?”
- Setelah selesai: “Tadi panjang-pendeknya rapi sekali. Abi senang dengarnya.” Sebut hal yang spesifik, bukan sekadar “pintar”.
Kapan perlu bantuan guru
Bila anak tetap menolak setelah beberapa pekan Anda mengubah porsi, jam, dan cara, atau bila hampir setiap sesi di rumah berakhir dengan tangis dan pertengkaran, mungkin sudah waktunya ada orang ketiga. Ada anak yang lebih mudah menerima koreksi dari guru daripada dari orang tuanya sendiri. Dengan begitu, Anda bisa kembali menjadi penyemangat, bukan penguji.
Pilih guru yang sabar, mau menyesuaikan porsi dengan kemampuan anak, dan rutin melaporkan perkembangannya. Bila Anda masih menimbang bentuk belajarnya, artikel TPA, TPQ, atau les ngaji privat membahas bedanya.
Satu Tutor mencarikan ustadz atau ustadzah yang cocok dengan usia, kemampuan, dan jadwal anak, lalu mengirim laporan perkembangan setiap bulan ke WhatsApp Anda, sehingga Anda bisa melihat apakah semangat anak mulai kembali. Bulan pertama menjadi masa coba: bila anak kurang cocok, gurunya kami ganti tanpa biaya. Guru tersedia online untuk keluarga di luar negeri atau datang ke rumah di kota-kota di seluruh Indonesia. Rincian paketnya ada di daftar harga lengkap.
Sumber
- Shahih al-Bukhari, Kitab al-‘Ilm, no. 68 dan no. 69 (no. 68, no. 69).
- HadeethEnc, hadits “Permudahlah dan jangan mempersulit” (tautan).
- Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, Kitab Riyadhat an-Nafs, bagian tentang mendidik anak (Wikisource).
- NU Online (2023), “Cara Mendidik Anak dan Murid menurut Ibnu Khaldun” (tautan).

